COACHING PHILOSOPHY

COACHING PHILOSOPHY

Seorang teman bertanya kepada saya tentang apa arti kata Coach dalam bahasa Indonesia. Terus terang sampai saat ini saya masih mengalami kesulitan menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk menjelaskan kata Coach. Ada buku yang menterjemahkan kata Coach sebagai pelatih, menurut saya kurang tepat kalau Coach diterjemahkan sebagai pelatih. Pelatih lebih pas dalam bahasa Inggrisnya adalah Trainer. Atau ada juga artikel yang menterjemahkan kata Coach sebagai pembimbing. Sama juga, seorang Coach bukanlah seorang pembimbing karena seorang pembimbing adalah seorang mentor. Saya lebih suka menterjemahkan kata Coach sebagai Coach karena seorang Coach adalah Coach, benar?

Namun ada penjelasan sederhana tentang kata Coach tersebut. Anda mau tahu jawabannya? Pernahkah anda naik kereta api? Pernahkah anda perhatikan karcis atau tiket kereta api tersebut? Kalau selama ini anda belum memperhatikan cobalah mulai sekarang lebih memperhatikan karcis atau tiket kereta api yang anda beli. Kalau anda jeli, anda akan menemukan kata Coach ada di sana. Kata Coach pada karcis atau tiket kereta api anda menunjukan pada gerbong nomor berapa tempat duduk anda berada. Kalau karcis atau tiket kereta api anda tertulis kata Coach-4 maka tempat duduk anda ada pada gerbong nomor 4 dan seterusnya. Lantas, apa hubungan nomor gerbong kereta api dengan kata Coach yang selama ini anda dengar dalam pelatihan-pelatihan atau anda baca pada iklan penawaran training atau juga pada kartu nama seorang pembicara dan trainer? Kata Coach berasal dari bahasa Inggris kuno yaitu coche yang artinya kereta.

Sebenarnya apa yang dilakukan dalam Coaching filosofinya kurang lebih sama dengan seseorang yang hendak berpergian dengan kereta api. Seseorang yang akan berpergian dengan kereta api pasti memiliki kota tujuan yang hendak dituju, sama seperti Coaching yang berfokus kepada goal atau outcome apa yang hendak dicapai (desire state). Orang tersebut juga pasti akan berangkat dari stasiun keberangkatan, demikian pula dalam Coaching dimana seorang Coach membantu coachee-nya mengidentifikasi kondisinya saat ini (present state) dan sejauh mana gap atau jarak kondisi saat ini dengan tujuan yang ingin dicapai. Perjalanan sebuah kereta api juga tidak lancar-lancar amat. Di tengah perjalanan mungkin kereta api tersebut terpaksa berhenti karena ada gangguan dari kereta api lain yang akan lewat. Dalam Coaching itulah yang disebut dengan conquering limiting belief. Sebuah kereta api berjalan di atas dua rel, demikian pula dengan Coaching berjalan di atas dua rel yang bernama inner games dan outter games. Dalam perjalanan ke kota tujuan sebuah kereta api membutuhkan bahan bakar untuk menghidupkan mesin, itulah resource dalam Coaching. Dan satu hal lagi untuk naik kereta api sampai ke kota tujuan, seorang penumpang perlu membayar harga untuk sebuah karcis/tiket, dalam Coaching itu disebut dengan komitmen.

Leave a Reply