<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TjiaIrawan.com</title>
	<atom:link href="http://tjiairawan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tjiairawan.com</link>
	<description>Professional Coach</description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 Feb 2012 02:52:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>SAATNYA BERDOA</title>
		<link>http://tjiairawan.com/saatnya-berdoa/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/saatnya-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2012 02:49:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[BREAKTRHOUGH.NLP ATTITUDE]]></category>
		<category><![CDATA[BUSINESS COACHING]]></category>
		<category><![CDATA[BUSINESS STRATEGIC]]></category>
		<category><![CDATA[COACH]]></category>
		<category><![CDATA[COACH INDONESIA]]></category>
		<category><![CDATA[COACHING INDONESIA]]></category>
		<category><![CDATA[conversational hypnosis]]></category>
		<category><![CDATA[covert hypnosis]]></category>
		<category><![CDATA[HYPNOSIS]]></category>
		<category><![CDATA[LEADERSHIP]]></category>
		<category><![CDATA[LIFE COACHING TRAINING]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[NLP COACHING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Oleh :  Coach Tjia Irawan – Life and Executives Coach Beberapa waktu yang lalu beberapa teman aktif memforward sebuah aplikasi via Blackberry Messanger. Aplikasi tersebut sangat bagus menurut saya yaitu pada waktu tertentu mengingatkan untuk berdoa. Mereka berlomba-lomba menginstall aplikasi tersebut di Blackberry masing-masing dan mendorong teman-teman yang lain melakukan hal yang sama, tak terkecuali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :  Coach Tjia Irawan – Life and Executives Coach</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu beberapa teman aktif memforward sebuah aplikasi via <em>Blackberry Messanger</em>. Aplikasi tersebut sangat bagus menurut saya yaitu pada waktu tertentu mengingatkan untuk berdoa. Mereka berlomba-lomba menginstall aplikasi tersebut di <em>Blackberry</em> masing-masing dan mendorong teman-teman yang lain melakukan hal yang sama, tak terkecuali saya.</p>
<p>Saya tidak pernah tertarik untuk meng<em>install</em> aplikasi tersebut. Lucunya keputusan saya untuk tidak menginstall aplikasi tersebut membuat saya seolah-olah menjadi seorang pendosa dihadapan mereka dan seolah menganggap saya tidak rohani. Saya menganggap hal itu biasa saja karena saya sudah dapat menebak bagaimana nasib dari aplikasi tersebut kelak.</p>
<p>Apakah anda dapat menebak sama seperti saya menebak bagaimana nasib aplikasi tersebut kelak? Anda benar. Ketika sampai di jam tertentu aplikasi yang sudah di<em>install</em> pada Blackberry aplikasi tersebut mengeluarkan suara seruan dan ajakan untuk berdoa. Awal-awalnya teman-teman saya yang meng<em>install</em> aplikasi tersebut begitu patuh mengikuti seruan yang keluar dari aplikasi tersebut. Waktu terus berjalan dan saat ini 100% ya 100% teman-teman saya yang telah meng<em>install</em> aplikasi tersebut menganggap angin lalu seruan tersebut ketika disuarakan lewat Blackberry mereka. sekarang gantian saya yang mentertawakan mereka dan melihat mereka sebagai pendosa … ups lupakan kalimat yang terakhir …. ha ha ha ha.</p>
<p>Manusia di-<em>drive</em> oleh <strong><em>Values</em></strong> dan <strong><em>Beliefs</em></strong> yang ada di dalam diri mereka yang akan mereka manifestasikan lewat <strong><em>Behavior</em></strong>. Tindakan teman-teman saya yang meng<em>install</em> aplikasi pengingat jam doa tersebut adalah sebuah tindakan mengatasi <strong><em>Behavior</em></strong> dengan <strong><em>Behavior</em></strong> yang lain. Ketika sebuah <strong><em>Behavior </em></strong>dipaksakan untuk mengkoreksi <strong><em>Behavior</em></strong> yang lain namun bertentangan dengan <strong><em>Values</em></strong> orang tersebut maka hasilnya akan percuma dan jadinya cuma sebuah tindakan yang <em>warm warm chicken shit </em>alias hangat-hangat tahi ayam dalam bahasa Inggris versi asal-asalan.</p>
<p>Sama seperti kebiasaan menempel Visi dan Misi Organisasi pada dinding-dinding kantor. Hasilnya Visi dan Misi Organisasi Perusahaan tersebut cuma akan menjadi hiasan dinding semata kalau Perusahaan tersebut tidak mampu melakukan <strong><em>ALIGNING</em></strong> antara <strong><em>Corporate Values</em></strong> dengan <strong><em>Personal Values</em></strong> dari masing-masing karyawannya. Sayangnya masih banyak tokoh dalam Perusahaan menganggap ketika Visi dan Misi Perusahaan di tempel di setiap dinding ruang kerja maka tugas mereka selesai. Keliru besar.</p>
<p>Menyusun Visi dan Misi Perusahaan serta mensosialisasikannya ke seluruh komponen Perusahaan menurut saya mungkin hanya 20% &#8211; 30% perjalanan. Bagian terbesar dari perjalanan tersebut adalah <strong><em>ALIGNING</em></strong> Visi dan Misi Perusahaan tersebut agar selaras dengan <strong><em>Personal Values</em></strong> dari setiap karyawannya.</p>
<p>Sebenarnya hampir semua Perusahaan sudah memiliki <strong><em>TOOLS</em></strong> untuk melakukan <strong><em>ALIGNING</em></strong> tersebut. Sayangnya banyak Perusahaan yang salah cara dalam menggunakan <em><strong>TOOLS</strong></em> tersebut. Mungkin mereka lupa membaca Manual Operasinya. Mungkin anda tahu <em><strong>TOOLS</strong></em> apa yang dimaksud dan bagaimana cara menggunakannya? Beritahukanlah mereka, kalau tidak sungguh sayang sekali dan mungkin ini saatnya buat kita semua untuk berdoa <em>(ti)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/saatnya-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CARA SUKSES MEMBUAT RESOLUSI AKHIR TAHUN YANG PASTI GAGAL</title>
		<link>http://tjiairawan.com/cara-sukses-membuat-resolusi-akhir-tahun-yang-pasti-gagal/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/cara-sukses-membuat-resolusi-akhir-tahun-yang-pasti-gagal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 04:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[A Cup of Tea for Mind]]></category>
		<category><![CDATA[financial freedom]]></category>
		<category><![CDATA[goal setting]]></category>
		<category><![CDATA[INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nlp]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi 2012]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi akhir tahun]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi akhir tahun 2011]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Oleh  :  Coach Tjia Irawan Menjelang akhir tahun topik yang biasanya digemari adalah tentang resolusi. Sepengamatan saya akan banyak orang menuliskan tips-tips bagaimana menyusun entah namanya itu resolusi atau goal setting atau sejenisnya. Training-training yang mengupas tentang bagaimana membuat goal setting juga banyak diselenggarakan dan tentunya peminatnyapun tidak kalah banyak. Saat inipun beberapa rekan meminta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh  :  Coach Tjia Irawan</p>
<p>Menjelang akhir tahun topik yang biasanya digemari adalah tentang resolusi. Sepengamatan saya akan banyak orang menuliskan tips-tips bagaimana menyusun entah namanya itu resolusi atau goal setting atau sejenisnya. Training-training yang mengupas tentang bagaimana membuat goal setting juga banyak diselenggarakan dan tentunya peminatnyapun tidak kalah banyak. Saat inipun beberapa rekan meminta saya untuk sharing tentang bagaimana membuat resolusi dan artikel ini adalah sebagian dari apa yang saya sharingkan dengan mereka.</p>
<p>Mengupas tentang bagaimana membuat sebuah resolusi atau goal setting itu biasa karena saya yakin pasti akan banyak yang akan menuliskannya. Saya lebih suka menuliskan tentang bagaimana cara sukses membuat resolusi akhir tahun yang pasti gagal. Lho kok begitu Coach? Yup, memang seperti itu. Mengapa? Sebelum saya menjawabnya ijinkan saya mengajukan beebrapa pertanyaan untuk anda.</p>
<p>Bila anda adalah orang yang senang membuat resolusi, berapa banyak jumlah resolusi yang anda biasa buat? Satu? Tiga? Lima? Sepuluh? Atau lebih dari sepuluh?</p>
<p>Berapa banyak atau berapa persen dari resolusi tersebut yang berhasil anda raih?</p>
<p>Bila anda berhasil meraih 100% saya salut dengan anda. Pengalaman saya umumnya resolusi yang tercapai itu di bawah 10% dari yang disusun dan bahkan banyak pula yang 100% tidak berhasil dicapai. Mengapa? He he he bila anda tanyakan kepada orang yang menjadi pemilik resolusi tersebut tentang mengapa tidak tercapai maka siap-siaplah anda menikmati sejumlah alasan-alasan dan pembenaran-pembenaran diri serta mulai menunjuk-nunjuk pihal lain sebagai penyebab gagalnya pencapaian resolusi tersebut.</p>
<p>Jadi daripada capek-capek membuat tips bagaimana membuat resolusi berhasil yang pasti gagal lebih baik membuat bagaimana resolusi yang pasti gagal karena tingkat keberhasilan untuk gagalnya lebih besar. Jadi bagaimana cara sukses untuk membuat resolusi yang pasti gagal? Di bawah ini tips-tipsnya :</p>
<ol>
<li><strong>Pastikan tidak ada Value di dalam setiap resolusi</strong>. Pastikan di dalam setiap goal setting anda tidak ada sesuatu yang penting dan bernilai. Kalau ada yang bertanya apakah penting dan bernilai, anda harus pandai berpura-pura menunjukan ada sesuatu yang penting dan bernilai. Bagaimana caranya? Ah bukankah kita semua sudah expert membedakan rasa hati yang mantap dengan rasa ketika mulut berkata yakin tapi hati berkata mana mungkin. Sekali lagi jangan sampai ada Value di resolusi anda karena sekali terdapat Value di resolusi anda maka anda akan terikat. Saat kerja terbayang resolusi anda, mau mandi terbayang resolusi anda, mau tidur terbayang resolusi anda, tidak enakkan setiap saat didorong oleh dorongan Value yng membuat anda ‘horny’ untuk mengejar dan mewujudkan resolusi atau goal setting anda.</li>
<li><strong>Pastikan resolusi anda adalah resolusi yang cuma terlihat keren dan ideal yang bukan benar-benar anda inginkan</strong>. Nah bagian ini harus diperhatikan baik-baik, jangan sekali-kali membuat resolusi yang benar-benar anda ingin wujudkan cukup ikut-ikutan teman saja atau sesuatu yang ideal, sesuatu yang terlihat bagus, sesuatu yang bukan menjadi kebutuhan anda. Cukup resolusi yang keren saja, dan pastikan anda cuma pura-pura ingin hal tersebut terwujud dalam kehidupan anda.</li>
<li><strong>Pastikan resolusi anda adalah resolusi yang anda sendiri tidak yakin bahwa anda mampu mencapainya</strong>. Anda tahu bahayanya kalau anda yakin bahwa anda sanggup meraih resolusi anda? Benar, bahayanya adalah anda benar-benar mampu mencapainya. Ngeri sekali bukan? Oleh sebab itu pastikan bahwa anda hanya memilih resolusi yang anda benar-benar tidak yakin untuk mencapainya. Separuh yakin atau tiga perempat yakin masih bolehlah.</li>
<li><strong>Pastikan resolusi yang anda buat itu banyak jumlahnya</strong>. Semakin banyak jumlah resolusi yang anda buat akan semakin bagus. Anda pernah mendengar tentang istilah The Law of Diminishing Return? Nah katanya kalau kita hanya fokus ke 2-3 goal maka kemungkinan jumlah goal yang tercapai itu sejumlah 2-3. Jika jumlah goal anda 4-10, maka kemungkinan goal yang tercapai adalah hanya sejumlah 1-2 goal saja. jika goal anda di atas 10 maka kemungkinan yang tercapai adalah 0, asik bukan? Jadi buatlah resolusi anda semakin banyak karena semakin banyak semakin bagus. Lupakan The Law of Diminishing Return bukankah kita punya The Law of Attraction yang mampu membuat kita merem melek?</li>
<li><strong>Untuk yang nomor 5 adalah tambahkan kebiasaan ada yang tidak efektif, apapun itu.</strong></li>
</ol>
<p>Hanya 5 langkah? Ya cukup 5 langkah untuk memastikan bahwa anda sukses membuat resolusi anda gagal total di tahun depan. Anda tentu dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan hidup anda seandainya resolusi atau goal anda tercapai dengan sukses. Kira-kira akan menjadi sesukses apa hidup anda tersebut? apakah itu yang anda inginkan?</p>
<p>Hati-hati bila anda punya keinginan untuk hidup sukses. Takutnya anda benar-benar memperjuangkan kesuksesan anda. Kalau benar-benar jadi sukses bagaimana hayoo?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/cara-sukses-membuat-resolusi-akhir-tahun-yang-pasti-gagal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MAAF, SAYA PENDONGENG BUKAN TRAINER</title>
		<link>http://tjiairawan.com/maaf-saya-pendongeng-bukan-trainer/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/maaf-saya-pendongeng-bukan-trainer/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 04:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[A Cup of Tea for Mind]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL MOTIVASI]]></category>
		<category><![CDATA[BREAKTRHOUGH.NLP ATTITUDE]]></category>
		<category><![CDATA[COACH]]></category>
		<category><![CDATA[COACH INDONESIA]]></category>
		<category><![CDATA[COACH TJIA]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[LIFE COACHING TRAINING]]></category>
		<category><![CDATA[NEURO LOGICAL LEVEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Coach Tjia Irawan Beberapa waktu yang lalu diantara beberapa rekan Trainer muncul pendapat tentang perbedaan antara Trainer dan Presenter. Saya paham maksud dari pembedaan antara Trainer dan Presenter ADALAH BAIK, namun yang membuat saya tidak pernah tertarik untuk membahas hal tersebut adalah pembahasan tentang pembedaan Trainer &#38; Presenter menurut saya malahan membuat diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Coach Tjia Irawan</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu diantara beberapa rekan Trainer muncul pendapat tentang perbedaan antara Trainer dan Presenter. Saya paham maksud dari pembedaan antara Trainer dan Presenter ADALAH BAIK, namun yang membuat saya tidak pernah tertarik untuk membahas hal tersebut adalah pembahasan tentang pembedaan Trainer &amp; Presenter menurut saya malahan membuat diri sibuk mengurusi atau mengkomentari bahkan cenderung menghakimi orang lain tapi lupa mengurusi diri sendiri. Sibuk menggolongkan si A masih berada di level Presenter, si B sudah di level Trainer, dsb. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berada di posisi observer saja sambil mengamati pembelajaran apa yang dapat saya ambil.</p>
<p>Suatu ketika di perusahaan kami mengundang seorang Trainer NLP yang cukup dikenal di Indonesia. Kami mengundang Trainer tersebut adalah untuk memberikan pelatihan tentang bagaimana menjadi seorang Professional Trainer kepada para Trainer di Perusahaan kami. Saya menghadiri training tersebut bukan sebagai peserta namun cuma sekedar mau memantau bagaimana jalannya kelas, apakah lancar atau tidak? Apakah para Trainer di Perusahaan kami mendapatkan pengajaran yang berkualitas dari Trainer tersebut atau tidak?</p>
<p>Saya sengaja duduk di kursi panitia di belakang sehingga lebih leluasa memantau kelas dan jalannya training. Training berjalan cukup menarik, peserta sepertinya puas karena si Trainer sanggup men-delivery training dengan sangat fun, santai dan menyenangkan karena full of humor tanpa mengurangi isi materi training yang ada.</p>
<p>Yang membuat saya tertarik dari apa yang diajarkan Trainer tersebut adalah ia tidak memandang dirinya sebagai Trainer namun ia melihat dirinya sendiri sebagai seorang komedian (baca : pelawak) yang membawa pesan pembelajaran. Ia menempa dirinya bukan sebagai seorang Trainer tapi ia menempa dirinya sebagai seorang komendian. Menurut saya hal ini luar biasa dan memberikan dampak yang bermanfaat bagi para peserta training.</p>
<p>Saya sangat tertarik dengan konsep ini, ketika seseorang membangun sebuah Identity, maka Values dan Beliefs-nya pun akan dipengaruhi oleh Identity yang dibangunnya tersebut, sehingga ia akan terus mengembangkan Capability-nya sesuai dengan Identitynya. Dengan Capability yang ia tambahkan yang sesuai dengan Identity yang dibangunnya tentunya akan berdampak pada Behavior atau cara mengajarnya di dalam kelas-kelas trainingnya.</p>
<p>Sejak saat itu saya memutuskan untuk membangun Identity sebagai seorang Pendongeng atau Penutur Cerita bukan sebagai seorang Trainer. Hal ini mempengaruhi Values dan Beliefs yang saya miliki bahwa kini saya adalah bukan seorang Trainer tapi Pendongeng. Hal tersebut mendorong saya waktu itu untuk mempelajari bukan ilmu bagaimana cara mengajar yang baik tapi bagaimana menuturkan cerita dengan baik.</p>
<p>Sebuah cerita terkadang terdapat begitu banyak tokoh di dalamnya. Saya perlu ciamik memainkan peran-peran yang ada dalam cerita yang saya bangun dan saya juga perlu belajar bagaimana menyatu dengan cerita. Bukan mendaftarkan diri ke sebuah kelas pelatihan Train The Trainer saya justru mendaftarkan diri untuk belajar dari sebuah klub teater. Saya belajar tentang bagaimana menghayati peran, bagaimana berpindah dari satu emosi ke emosi yang lain. Saya juga belajar tentang olah nafas dan olah vokal juga mengelola mimik dan bahasa tubuh ala teater yang ternyata nantinya begitu berdampak di kelas training yang saya bawakan.</p>
<p>Ternyata ketika saya mengenakan Identity sebagai seorang Pendongeng, aura kelas sayapun berubah. Saya tidak membutuhkan ice breaking atau energizer di jam tertentu dan saya mampu membuat peserta tetap fokus dengan membuat mereka asik menikmati cerita pembelajaran yang saya buat di kelas. Dan saya tidak pernah kehabisan sumber-sumber cerita, mengapa? Karena saya tidak perlu mengarang sebuah cerita dengan tokoh dan isi cerita yang fiktif atau menceritakan kisah hidup orang lain. Sumber cerita tentang pengalaman diri pribadi, keluarga, kesuksesan atau kegagalan diri sendiri itu begitu berlimpah. Dengan menceritakan tentang kisah diri sendiri saya tidak perlu berakting menjadi tokoh tertentu tetapi cukup menjadi diri sendiri saja dan itu sangat berdampak.</p>
<p>Ketika saya mengenakan Identity sebagai seorang Trainer saya sering tidak nyaman jika menceritakan kisah kegagalan, kebodohan atau hal lain tentang diri sendiri karena takut dianggap tidak keren oleh peserta, namun ketika saya mengenakan Identity sebagai seorang Pendongeng justru kisah gagal atau kebodohan diri karena salah mengambil keputusan atau hal lainnya menjadi bahan yang menyenangkan untuk dijadikan sumber cerita disamping kisah sukses . jadi tidak masalah cerita baik atau kurang baik kedua-duanya dapat menjadi materi dahsyat di kelas pelatihan saya.</p>
<p>Saya sangat menikmati Identity ini yang memungkinkan saya bukan hanya mampu membuat peserta tetap fokus namun juga mampu membawa peserta tenggelam dalam cerita-cerita pembelajaran yang saya bawakan. Dan saat ini sangat sering saya mendengar peserta di kelas training saya yang berkata bahwa mereka begitu asik fokus sampai tidak menyadari sudah sore dan kelas berakhir. Asiknya pula saya tidak perlu lagi memainkan permainan-permainan ice breaking atau energizer yang akan mengkonsumsi waktu di kelas yang seharusnya lebih berguna apabila dimaksimalkan untuk men-delivery materi pembelajaran.</p>
<p>So, anda telah membaca pengalaman saya membagun Identity sebagai seorang Pendongeng. Sekarang kira-kira Idenity apa yang ingin anda bangun sebagai seorang Trainer? Ingat, Identity yang anda bangun akan menentukan akan seperti apa suasana kelas-kelas pelatihan anda.</p>
<p>Selamat membangun Identity</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/maaf-saya-pendongeng-bukan-trainer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETIKA NLP MEMBUAT HIDUP MENJADI SEMAKIN SULIT</title>
		<link>http://tjiairawan.com/ketika-nlp-membuat-hidup-menjadi-semakin-sulit/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/ketika-nlp-membuat-hidup-menjadi-semakin-sulit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 02:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[HYPNOSIS]]></category>
		<category><![CDATA[Life Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[nlp]]></category>
		<category><![CDATA[NLP COACH]]></category>
		<category><![CDATA[NLP COACHING]]></category>
		<category><![CDATA[NLP TRAINING]]></category>
		<category><![CDATA[terapi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Coach Tjia Irawan Saya menulis artikel ini dengan senyum mengembang di wajah saya. Saya tahu bahwa artikel ini menggunakan judul yang “nakal” dan “menggoda” teman-teman praktisi NLP atau mereka yang memang menggandrungi NLP. “Iklan” artikel ini saya posting di social media seperti Facebook dan Twitter juga di maling list dan saya membayangkan respon-respon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Coach Tjia Irawan</p>
<p>Saya menulis artikel ini dengan senyum mengembang di wajah saya. Saya tahu bahwa artikel ini menggunakan judul yang “nakal” dan “menggoda” teman-teman praktisi NLP atau mereka yang memang menggandrungi NLP. “Iklan” artikel ini saya posting di social media seperti Facebook dan Twitter juga di maling list dan saya membayangkan respon-respon yang akan menanggapi judul artikel ini.</p>
<p>Apakah isi artikel ini adalah sebagaimana judulnya? Sepertinya saya perlu meminta maaaf yang sebesar-besarnya buat teman-teman yang sudah menjadi begitu penasaran dan mampir ke website <a href="http://tjiairawan.com/">http://tjiairawan.com</a> jika isi artikel ini tidak sesuai dengan apa yang teman-teman duga, ha ha ha. Namun jangan khawatir karena saya berusaha mengupasnya dari sudut pandang NLP.</p>
<p>Saya tidak tahu ada berapa banyak orang yang menjadi “tersinggung” ketika membaca judul artikel ini saat saya mempostingnya di FB, Twitter dan Milist? Saat ini saya cuma melakukan T.O.T.E atas belief saya, tentang ada berapa banyak orang yang akan langsung berkomentar, atau bahkan langsung berkomentar membantah atau menyatakan ketidaksetujuannya secara serta merta HANYA dengan membaca judul tersebut dan TANPA atau sebelum membaca isi artikelnya?</p>
<p>Saya tidak tahu apakah anda termasuk orang tersebut? Jangan khawatir itu manusiawi, sayapun mungkin juga akan “tergoda” melakukan hal yang sama. Ketika membuat judul tersebut ada satu KEYAKINAN saya bahwa mereka yang membaca judul tersebut akan menjadi tidak sepenuhnya waspada terhadap KATA-KATA yang saya gunakan untuk judul. Saya YAKIN bahwa hanya SEDIKIT saja mereka yang menyadari bahwa saya menggunakan kata KETIKA sebelum kalimat NLP membuat hidup jadi semakin sulit.</p>
<p>Dalam Coaching inilah level mendengar yang disebut dengan Conversational Listening. Ketika Coachee/Klien mengemukakan pendapatnya, Coachnya sibuk dengan argumentasinya sendiri dalam SELF TALK-nya. Conversational Listening adalah termasuk level mendengar yang dilarang digunakan dalam sebuah sesi Coaching. Seorang Coach yang jeli akan mempertanyakan kata KETIKA. KETIKA kapan NLP membuat hidup jadi semakin sulit? KETIKA kapan NLP membuat hidup jadi semakin tidak sulit (baca : mudah/memudahkan)? Apa buktinya KETIKA NLP membuat hidup jadi semakin sulit? Apa buktinya KETIKA NLP membuat hidup jadi semakin tidak sulit (baca : mudah/memudahkan) ?</p>
<p>Saya tidak tahu apakah T.O.T.E saya akan terbukti, bahwa tidak banyak orang yang akan merespon judul artikel saya dengan mempertanyakan (menchallenge) kata KETIKA. Saya sungguh paham bahwa bagi sebagian orang NLP telah menjadi sebuah Identity, sehingga ketika Behavior yang saya tunjukan di Environment mereka lewat judul tersebut, behavior saya seolah-olah “menyerang” Identity sehingga mereka akan bergerak mempertahankan Identity tersebut.</p>
<p>NLP begitu berlimpah dengan teknik-teknik yang begitu POWERFUL, benar? Sehingga saya setuju seharusnya NLP itu membuat hidup menjadi semakin mudah bagi mereka yang mempelajari dan sungguh mempraktekkannya. Jadi menurut anda KETIKA kapankah NLP membuat hidup menjadi semakin sulit? KETIKA dalam kondisi apakah NLP membuat hidup jadi semakin sulit?</p>
<p>NLP begitu membantu saya memudahkan diri untuk mensistematiskan sebuah konsep strategis yang ada di dalam pemikiran saya dengan metode dan tekniknya yang begitu berlimpah. Bagaimana dengan anda? Adakah sesuatu dari NLP yang membuat hidup anda menjadi semakin mudah? Atau jangan-jangan  …….  Uuups, sudah ah saya akan berhenti “menggoda” ha ha ha ha</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/ketika-nlp-membuat-hidup-menjadi-semakin-sulit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETIKA SEX MENJADI HIBURAN SATU-SATUNYA</title>
		<link>http://tjiairawan.com/ketika-sex-menjadi-hiburan-satu-satunya/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/ketika-sex-menjadi-hiburan-satu-satunya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 04:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Counselling]]></category>
		<category><![CDATA[Counseling]]></category>
		<category><![CDATA[Ketergantungan]]></category>
		<category><![CDATA[Narkoba]]></category>
		<category><![CDATA[nlp counseling]]></category>
		<category><![CDATA[Sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Oleh :  Coach Tjia Irawan Beberapa teman-teman tertawa ketika saya menggunakan judul ini untuk artikel saya kali ini, beberapa yang lain mempertanyakan dengan bercanda mereka berkata apakah saya sudah beralih profesi dari seorang Coach menjadi seorang Sexolog. Ada juga beberapa yang protes dengan judul tersebut di atas. Buat saya apapun respon mereka semuanya sangat menarik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :  Coach Tjia Irawan</p>
<p>Beberapa teman-teman tertawa ketika saya menggunakan judul ini untuk artikel saya kali ini, beberapa yang lain mempertanyakan dengan bercanda mereka berkata apakah saya sudah beralih profesi dari seorang Coach menjadi seorang Sexolog. Ada juga beberapa yang protes dengan judul tersebut di atas. Buat saya apapun respon mereka semuanya sangat menarik. Mengapa? Karena seseorang di ‘drive’ oleh Value mereka, jadi apapun yang ditunjukan lewat behavior mereka karena di ‘drive’ oleh Valuenya. So, jadi Value apa yang men-‘drive’ anda sampai ke artikel ini? <img src='http://tjiairawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Judul ini saya pilih ketika saya mengamati pasien-pasien ketergantungan narkotika. Seperti biasa akibat pengaruh dari sahabat saya Chef Talip (http://timoteustalip.com) yang produktif menulis artikelnya dengan metode See-Hear-Feal, maka artikel inipun lahir akibat See-Hear-Feel tersebut. Tulisan ini juga merupakan penjabaran lain dari Artikel Aku hidup di dalam Dunia Penuh Kemarahan yang terakhir saya tulis.</p>
<p>Ketika saya mengamati pasien-pasien ketergantungan narkotika, saya berpikir apa yang mereka cari dari narkotika tersebut. saya percaya mereka memiliki alasan-alasan sendiri ketika mengkonsumsi narkotika yang akhirnya menjerat mereka sedemikan rupa ke dalam ketergantungan. Perilaku mengkonsumsi narkotika hanyalah sebuah perilaku atau behavior semata. Dibalik perilaku tersebut ada sebuah Value yang hendak dipuaskan. Value tersebut mungkin saja kebahagiaan, kebebasan dan lain sebagainya.</p>
<p>Pertanyaan saya adalah salahkah seseorang mengejar kebahagiaan? Salahkah seseorang mengejar kebebasan? Adakah yang salah dengan kebahagiaan dan kebebasan? Value selalu baik. Ya selalu baik tidak pernah jelek. Oleh sebab itu pisahkanlah Value seseorang dengan Behavior yang ditunjukannya. Dalam Artikel  Aku hidup di dalam Dunia Penuh Kemarahan saya membahas bahwa ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi Valuenya akibat menunjukan Behavior yang salah disebabkan karena keterbatasan dalam Capability ataua kapabilitas orang tersebut.</p>
<p>Dalam Artikel ini saya sekali lagi ingin menunjukan bahwa Value selalu benar hanya saja mengapa seseorang menampilkan Behavior yang dianggap salah oleh Environment (lingkungan) karena ia tidak memiliki PILIHAN Behavior yang lain. Seolah ia menggunakan kaca mata kuda, hanya PILIHAN yang ada dihadapannyalah yang dianggap benar dan cocok untuk memenuhi Value-nya.</p>
<p>Ketergantungan Narkotika sama seperti dengan ketergantungan sex. Ada Value yang menuntut untuk dipenuhi dari perilaku ketergantungan sex. Tidak ada yang salah dengan Value dibalik ketergantungan sex, namun perilaku ketergantungan sex tentulah salah menurut padangan sebagian besar orang di Environment. Entah anda termasuk yang setuju atau tidak? Namun itupun di-“drive” oleh Value anda.</p>
<p>Orang yang menganggap sex adalah hiburan satu-satunya dalam hidupnyapun di-“drive” oleh Value mereka, dan keterbatasan PILIHAN lah (yang mungkin menurut mereka paling cocok dan menyenangkan) yang membuat mereka memilih PILIHAN tersebut dibanding perilaku lainnya.</p>
<p>Ingat Value yang men’drive’ perilaku atau Behavior seseorang, tapi keluasan Capability seseorang dalam rangka pemenuhan Valuelah yang membuat perilaku atau Behavior tersebut dapat diterima oleh lingkungannya.</p>
<p>Selamat mengembangkan kapabilitas anda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/ketika-sex-menjadi-hiburan-satu-satunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AKU HIDUP DI DUNIA PENUH KEMARAHAN</title>
		<link>http://tjiairawan.com/aku-hidup-di-dunia-penuh-kemarahan/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/aku-hidup-di-dunia-penuh-kemarahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 04:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Counselling]]></category>
		<category><![CDATA[Counseling]]></category>
		<category><![CDATA[ego state therapy]]></category>
		<category><![CDATA[ericksonian]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[HYPNOSIS]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotherapy]]></category>
		<category><![CDATA[nlp]]></category>
		<category><![CDATA[nlp counseling]]></category>
		<category><![CDATA[terapi]]></category>
		<category><![CDATA[therapy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Coach Tjia Irawan Saya menulis artikel ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk keprihatinan saya terhadap perubahan perilaku yang terjadi di masyarakat. Coba saja lihat headline-headline surat kabar, apalagi surat kabar yg mengusung topik-topik kriminalitas. Penganiayaan atau bahkan sampai yang berujung pembunuhan acapkali disebabkan oleh persoalan yang hanya sepele. Kekerasan merupakan sebuah hal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh : Coach Tjia Irawan</p>
<p>Saya menulis artikel ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk keprihatinan saya terhadap perubahan perilaku yang terjadi di masyarakat. Coba saja lihat headline-headline surat kabar, apalagi surat kabar yg mengusung topik-topik kriminalitas. Penganiayaan atau bahkan sampai yang berujung pembunuhan acapkali disebabkan oleh persoalan yang hanya sepele. Kekerasan merupakan sebuah hal yang wajar, benarkah?</p>
<p>Apa yang menyebabkan perubahan perilaku dari peramah menjadi pemarah? Saya percaya ada banyak stimulan yang menciptakan perubahan di masyarakat, namun dalam artikel ini saya ingin membahas hal tersebut dari sudut pandang saya pribadi semata bukan berdasarkan riset atau studi yang dikhususkan.</p>
<p>Dari kacamata saya, saya melihat bahwa telah terjadi pelebaran jurang antara kenyataan dan harapan, antara kondisi saat ini dengan kondisi yang diinginkan. Harapan-harapan masyarakat dibumbung tinggikan oleh sosialisasi gaya hidup hedonisme dan konsumerisme yang begitu gencar. Sukses dilambangkan dengan kekayaan, sukses diukur dengan uang. Apakah ukuran sukses hanya spt itu?</p>
<p>Selalu ada Value di balik sebuah Goal. Gaya hidup konsumerisme yang seolah-olah menjadi penggambaran sukses menjadi sebuah Value. Sehingga ketika seseorang diminta menetapkan sasaran maka secara tanpa disadari ia menggunakan Value tersebut sebagai nilai dari Goal atau sasarannya.</p>
<p>Memang benar ada peribahasa yang berkata “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit” dan yang terpenting adalah bukan sekedar menggantungkan cita-cita setinggi langit tapi bagaimana mendaki langit tersebut dari kondisi saat ini. Semakin tinggi langit tempat dimana cita-cita digantungkan maka semakin besar upaya untuk mendaki langit tersebut, benar?</p>
<p>Masalahnya adalah bukan pada harapan atau cita-cita yang setinggi langit, masalahnya adalah apakah seseorang memiliki kemampuan, keterampilan, atau kapabilitas untuk mengejarnya. Ketika mereka tidak memilikinya maka mereka hanya akan bergerak sesuai dengan sumberdaya yang ada yang mereka miliki dalam bentuk behavior atau perilakunya dan disinilah akar permasalahannya. Masalahnya adalah sering sebuah behavior yang ditampilakan tidak sesuai dengan apa yang dipersyaratkan oleh lingkungan atau environmentnya. Apa yang terjadi ketika sebuah behavior ditolak oleh environment? Seringkali penolakan behavior dimaknai sebagai penolakan identitas dan ketika sebuah penolakan dimaknai sebagai sebuah penolakan identitas maka munculah istilah luka batin. Luka batin sering tersimpan jauh di dalam lubuk hari seseorang. Bukan hilang namun menunggu saat yang tepat untuk diledakkan.</p>
<p>Lihatlah apa yang terjadi di masyarakat kita. Mereka yang mampu, bergelimang resource untuk mengembangkan kapabilitasnya sedemikian rupa sedangkan mereka yang tidak mampu, jangankan untuk mengembangkan kapabilitas, resource untuk sekedar bertahan hidup saja mereka pas-pasan.</p>
<p>Kemarahan yang mudah meledak pada masyarakat kita, buat saya adalah ketidakberdayaan yang disebabkan oleh kondisi lack of capability. Lack of capability yang dunia pendidikan yang ada saat ini belum mampu 100% menjawabnya.</p>
<p>Mudah-mudahan dunia pendidikan kita bukan lagi model pendidikan yang kaya dalam menghafal tapi miskin dalam aplikasi, tahu banyak hal tapi tidak mampu banyak hal. Mudah-mudahan dunia pendidikan kita ini berubah bukan lagi sekedar 4, 5, 6 jam untuk pelajaran fisika, matematika tapi hanya 1 jam untuk pelajaran agama.</p>
<p>Saya percaya bahwa bentuk kemarahan dimasyarakat disebabkan sangat banyak faktor dan artikel yang saya bahas ini adalah cuma satu dari yang sangat banyak tersebut. Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/aku-hidup-di-dunia-penuh-kemarahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CLAIM YOUR SPECIAL DISCOUNT !!!</title>
		<link>http://tjiairawan.com/claim-your-special-discount/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/claim-your-special-discount/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 09:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Training Events]]></category>
		<category><![CDATA[CARI TRAINING COACHING]]></category>
		<category><![CDATA[EXECUTIVE COACH]]></category>
		<category><![CDATA[LEADERSHIP]]></category>
		<category><![CDATA[LEADERSHIP TRAINING]]></category>
		<category><![CDATA[LIFE COACH TRAINING]]></category>
		<category><![CDATA[Life Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[NLP COACH]]></category>
		<category><![CDATA[NLP COACHING]]></category>
		<category><![CDATA[Training]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[PROGRAM SPESIAL AKHIR TAHUN &#8212; LIFE COACH CERTIFICATION TRAINING MODUL 1 10-11 Desember 2011 09.00 &#8211; 17.00 Arion Swiss Belhotel Kemang &#8211; Jakarta &#160; Materi LIFE COACH CERTIFICATION TRAINING – MODUL : Apa itu Coaching &#38; Life Coaching Coaching VS Teknik Lainnya  Coaching Framework Inner Motivation  Value &#38; Core Value  Belief &#38; Limiting Belief  GROW [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PROGRAM SPESIAL AKHIR TAHUN</strong></p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>LIFE COACH CERTIFICATION TRAINING</strong></p>
<p><strong>MODUL 1</strong><strong><br />
</strong><strong>10-11 Desember 2011</strong><strong><br />
</strong><strong>09.00 &#8211; 17.00</strong><strong><br />
</strong><strong>Arion Swiss Belhotel Kemang &#8211; Jakarta</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Materi LIFE COACH CERTIFICATION TRAINING – MODUL :</strong></p>
<ol>
<li>Apa itu Coaching &amp; Life Coaching</li>
<li>Coaching VS Teknik Lainnya</li>
<li> Coaching Framework</li>
<li>Inner Motivation</li>
<li> Value &amp; Core Value</li>
<li> Belief &amp; Limiting Belief</li>
<li> GROW Model</li>
<li> Creative Questioning</li>
<li> Power of Listening</li>
<li> Dan BANYAK TEKNIK lainnya lagi &#8230;.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>REGISTRASI</strong></p>
<ul>
<li>Kirim SMS dengan format: Coach  (Spasi) Nama Lengkap (spasi) Alamat Email (spasi) ke 081388619998.</li>
<li>Mengisi formulir pendaftaran yang dikirim via email</li>
<li><em>Menerima Pendaftaran Menggunakan Kartu Kredit Bebas biaya administrasi</em></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>ORGANIZED BY</strong></p>
<p><strong>BetterMind Indonesia</strong></p>
<p>Contact Person  :</p>
<p>Adang     : 081388619998, 021-26721727</p>
<p>Ibnu       : 082 111 565 888,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/claim-your-special-discount/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEKERJAANKU MERENGGUT KELUARGAKU</title>
		<link>http://tjiairawan.com/pekerjaanku-merenggut-keluargaku/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/pekerjaanku-merenggut-keluargaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 03:59:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL MOTIVASI]]></category>
		<category><![CDATA[LIFE COACHING TRAINING]]></category>
		<category><![CDATA[LIFECOACHING]]></category>
		<category><![CDATA[nlp]]></category>
		<category><![CDATA[pasive income]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Coach Tjia Irawan Pekerjaan saya sepertinya telah merenggut keluarga saya Coach, demikian yang Beno (bukan nama sebenarnya) sampaikan dalam sebuah sesi Life Coaching. Saat ini tuntutan pekerjaan begitu tinggi. Apabila saya mengatakan pekerjaan tentunya itu bukan hanya berlaku bagi mereka yang berstatus sebagai karyawan namun juga buat mereka yang menjalankan bisnisnya sendiri. Bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Coach Tjia Irawan</p>
<p>Pekerjaan saya sepertinya telah merenggut keluarga saya Coach, demikian yang Beno (bukan nama sebenarnya) sampaikan dalam sebuah sesi Life Coaching. Saat ini tuntutan pekerjaan begitu tinggi. Apabila saya mengatakan pekerjaan tentunya itu bukan hanya berlaku bagi mereka yang berstatus sebagai karyawan namun juga buat mereka yang menjalankan bisnisnya sendiri.</p>
<p>Bagi mereka yang berstatus karyawan sudah bukan rahasia umum lagi kalau target bisnis setiap tahun semakin meningkat, sehingga diperlukan effort yang tinggi untuk mencapainya. Bagi yang berstatus businessman, persaingan usaha sedemikian ketat. Para businessman memutar otaknya sedemikian rupa untuk menemukan strategi yang tepat untuk memenangkan persaingan atau paling tidak sekedar mampu membuat bisnisnya mampu survive.</p>
<p>Beno kebetulan adalah seorang karyawan, ia seorang manajer dari sebuah perusahaan multi nasional yang cukup ternama di Indonesia. Secara prestasi Beno merupakan karyawan yang cemerlang. Namun akhir-akhir ini karena tuntutan bisnis yang semakin tinggi ia merasakan tidak memiliki waktu lagi untuk bersama keluarga. Setiap hari pulang sampai larut malam karena harus menyelesaikan target-target kerja yang dibebankan kepadanya. Belum lagi frekuesnsi perjalanan dinas ke luar kota yang semakin sering membuatnya semakin sering pula meninggalkan keluarga. Hebatnya lagi karena kesibukan pada hari kerja, perusahaan Beno semakin sering membuat meeting-meeting di weekend. Bukankah wajar keluar ungkapan kalau pekerjaan telah merenggut keluarganya.</p>
<p>Saya percaya di luar sana begitu banyak Beno-Beno lain yang mengalami nasib serupa dengannya. Menurut saya hal ini dapat menjadi sebuah lingkaran setan yang semakin lama semakin membesar. Akibat energi dan fokus diarahkan untuk berada di Area Karir maka Area-Area Kehidupan lainnya menjadi seolah terabaikan. Dalam kasus Beno Area Kehidupan apa saja yang menurut anda menjadi kurang bahkan tidak diperhatikan? Dalam kesimpulan saya Area Keluarga, Area Kesehatan, Area Sosial, Area Spiritual menjadi kurang diperhatikan.</p>
<p>Bagaimana solusinya? Solusi yang paling mudah tentunya Beno keluar dan mencari pekerjaan lain yang waktunya lebih dapat mengakomodasi kebutuhannya untuk memperhatikan keluarga, namun apakah sesederhana itu? Tentunya begitu banyak faktor yang perlu diperhatikan, yang belum tentu artikel ini mampu memberikan jawabannya dengan tepat dan benar sesuai kebutuhan masing-masing orang. Akan tetapi melalui artikel ini saya ingin memperkenalkan salah satu tools yang dapat menjadi sebuah early warning sign bagi setiap orang, baik ia seorang karyawan, pengusaha, ibu rumah tangga, mahasiswa dan sebagainya. Tools tersebut bernama Wheel of Life.</p>
<p>Kalau anda browsing di  internet anda akan menemukan banyak model Wheel of Life dan dalam artikel ini saya ingin membagikan model Wheel of Life sebagaimana yang saya ajarkan di dalam kelas-kelas pelatihan Life Coaching yang saya bawakan. Wheel of Life terdiri dari 8 Area Kehidupan, yaitu  :</p>
<ol>
<li>Spiritual</li>
<li>Keluarga</li>
<li>Karir</li>
<li>Keuangan</li>
<li>Kesehatan</li>
<li>Social</li>
<li>Pertumbuhan Pribadi</li>
<li>Rekreasi dan kesenangan/hobi</li>
</ol>
<p>Ke-8 Area Kehidupan inilah yang membentuk Wheel of Life.</p>
<p>Bayangkan sebuah mobil atau sepeda motor, apa yang terjadi ketika anda ingin memacu mobil/motor tersebut tetapi ban mobil/motor anda tidak bundar? Dapatkah anda memacu optimal kendaraan anda tersebut? Apakah nyaman anda mengendarainya? Bagaimana dengan kehidupan anda jika roda kehidupan anda tidak seimbang? Kasus Beno adalah contoh Wheel of Life yang sangat tidak seimbang.</p>
<p>Saya memiliki berita buruk dan berita baik untuk anda. Berita buruknya adalah anda tidak mungkin berada di beberapa Area Kehidupan di waktu dan saat yang sama. Ketika anda berada di Area Karir maka anda akan “mengorbankan” Area Kehidupan lainnya seperti Area Keluarga, Sosial dan kesehatan. Sampai saat ini saya tidak percaya kalau ada orang yang berkata dapat berada di Area Keluarga dan Karir pada saat yang sama.</p>
<p>Apa yang perlu dilakukan? Pertama adalah sadari kalau saat ini anda sedang berada di Area Kehidupan yang mana dan anda “berhutang” pada Area Kehidupan yang mana. Contohnya ketika saya menuliskan artikel ini saya menyadari bahwa saya sedang berada di Area Karir karena bukan tidak mungkin kalau anda membaca artikel ini kemudian tertarik dan akhirnya memutuskan untuk mendaftar pelatihan Life Coaching yang saya selenggarakan sekarang. Jadi yang saya lakukan saat ini adalah berada di Area Karir. Pada Area mana saya berhutang? Saya berhutang pada Area Keluarga karena saat saya memfokuskan menyelesaikan artikel ini saya tidak mencurahkan perhatian saya ke istri dan anak-anak saya yang buka tidak mungkin mereka sedang membutuhkan saya saat ini.</p>
<p>Kedua, bayar hutang anda. ketika saya menyadari bahwa saya berhutang kepada Area Keluarga, maka setelah artikel ini saya selesaikan saya merencanakan memberikan pelukan untuk anak saya dan menjadi pendengar yang baik untuk istri saya.</p>
<p>Ketiga, jaga senantiasa Area Kehidupan anda. Area Kehidupan dalam wheel of Life memang saling melemahkan satu dengan yang lain namun juga saling menguatkan satu dengan yang lain. Dalam kasus Beno bukan tidak mungkin masalahnya selesai apabila ia mulai merencanakan membangun Area Keuangan dia dari keadaan dimana sumber penghasilannya berada dalam status Super Active Income menjadi Pasive Income. Sahabat saya Tosan Liem sedang menyusun buku yang membahas tentang hal ini.</p>
<p>Wheel of Life buat saya merupakan sebuah sistem early warning sign yang begitu membantu saya menjalankan kehidupan dengan seimbang. Di atas kertas ia terlihat begitu sederhana namun ketika mendalaminya anda akan menemukan sesuatu yang advance disana.contohnya Area Keluarga akan dibagi lagi menjadi 3 Area yaitu Area Pribadi, Area Pasangan dan Area Anak-Anak. Demikian pula Area yang lainnya.</p>
<p>Saya mengajak anda, kecuali anda tidak terlalu peduli dengan kesuksesan yang seimbang. Pelajarilah Wheel of Life dan pakailah tools ini sebagai alat yang membantu anda menjalani kehidupan yang seimbang. Bila anda tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam anda dapat follow saya di twitter di akun @coachtjia anda dapat mengaksesnya di hashtag #WheelOfLife. Atau bila anda malas untuk mengikutinya di twitter dan ingin mempelajarinya dengan cepat dan lengkap, maka anda dapat mengikutinya di setiap pelatihan Life Coaching yang saya selenggarakan. Silahkan anda diskusikan dengan tim saya di <a href="mailto:coachingmedia.solutions@gmail.com">coachingmedia.solutions@gmail.com</a></p>
<p>Semoga artikel ini bermanfaat dan sukses secara seimbang untuk anda sekalian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/pekerjaanku-merenggut-keluargaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TRAINING MOTIVASI PALING DAHSYAT</title>
		<link>http://tjiairawan.com/training-motivasi-paling-dahsyat/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/training-motivasi-paling-dahsyat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 05:15:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[A Cup of Tea for Mind]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL MOTIVASI]]></category>
		<category><![CDATA[COACH TJIA]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[HIPNOSIS]]></category>
		<category><![CDATA[inspirational]]></category>
		<category><![CDATA[Life Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[motivasional]]></category>
		<category><![CDATA[nlp]]></category>
		<category><![CDATA[TJIA IRAWAN]]></category>
		<category><![CDATA[Training]]></category>
		<category><![CDATA[TRAINING MOTIVASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[By : Coach Tjia Irawan Beberapa waktu yang lalu saya mengadakan mini survey tentang apa yang membuat seseorang datang ke sebuah Training Motivasi. Sebenarnya saya cuma iseng saja ketika mengadakan mini survey tersebut. Pemicunya adalah karena saya melihat begitu banyak orang yang mengejar untuk mengikuti sebuah Training Motivasi apalagi bila Motivatornya adalah beberapa Motivator yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By : Coach Tjia Irawan</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya mengadakan mini survey tentang apa yang membuat seseorang datang ke sebuah Training Motivasi. Sebenarnya saya cuma iseng saja ketika mengadakan mini survey tersebut. Pemicunya adalah karena saya melihat begitu banyak orang yang mengejar untuk mengikuti sebuah Training Motivasi apalagi bila Motivatornya adalah beberapa Motivator yang dikategorikan Motivator papan atas.</p>
<p>Dan ketika saya berbicara dengan teman-teman HRD Manager atau Training Manager saya mendapatkan informasi kalau Training Motivasi pasti menjadi salah satu menu training yang diagendakan dan dijadikan sebagai belanja training perusahaan dalam 1 tahun anggaran.</p>
<p>Dari jawaban para responden saya mengelompokan faktor –faktor yang membuat orang-orang senang mengikuti sebuah Training Motivasi, antara lain :</p>
<ol>
<li>Motivatornya terkenal dan memiliki pengalaman hidup sukses yang luar biasa.</li>
<li>Kata-kata yang disampaikan Motivator membangkitkan semangat</li>
<li>Audio Visual yang digunakan membangkitkan perasaan semangat dan motivasi</li>
<li>Seminarnya tidak hanya duduk tetapi juga bergerak</li>
</ol>
<p>Mungkin anda memiliki alasan lain mengapa anda memutuskan mengikuti sebuah pelatihan motivasi selain dari yang saya sebutkan di atas, tetapi itu bukan masalah karena setiap orang tentunya memiliki alasan dalam melakukan sesuatu, benar?</p>
<p>Saya tidak tahu seberapa banyak orang yang seperti saya, ketika mengikuti sebuah Training Motivasi saya menjadi begitu bersemangat dan begitu termotivasi. Namun paling lama satu bulan setelah training tersebut berlalu rasanya motivasi tersebut menguap. Tentunya bukan karena sebuah Training Motivasi itu tidak bagus, sebaliknya sebuah Training Motivasi sangat bagus hanya saja tantangan-tantangan hidup dalam kehidupan sepertinya mengikis motivasi tersebut.</p>
<p>Sebuah Training Motivasi itu ibarat sebuah pemantik api. Ia akan menyalakan api di dalam diri setiap pesertanya. Sama seperti obor yang dinyalakan tentunya ketahanan nyala api tergantung seberapa minyak yang ada di obor tersebut. Semakin banyak minyaknya maka semakin lama obor tersebut menyala.</p>
<p>Selama ini saya banyak mencari faktor motivasi di luar diri, namun melupakan sesuatu yang ada di dalam diri. Mari melihat kepada 4 faktor yang telah saya sebuatkan di atas, namun kali ini anda lihat dari perspektif yang berbeda.</p>
<p><strong>1.       </strong><strong>Motivatornya terkenal dan memiliki pengalaman hidup sukses yang luar biasa</strong></p>
<p>Seorang Motivator yang memiliki pengalaman hidup yang sukses tentunya menarik banyak orang untuk mendengarnya. Mengapa? Karena hal tersebut membangkitkan inspirasi bagi diri untuk melakukan tindakan yang sama dan memiliki tindakan yang sama. Namun sayangnya Motivator atau Trainer dari seminar tersebut adalah pribadi yang di luar diri bukan di dalam diri. Dalam Coaching ada “seorang” Motivator yang hebat yang bernama RESULT atau hasil. RESULT akan memperkuat BELIEF dan ketika BELIEF semakin kuat maka dari dalam diri akan bangkit motivasi untuk melakukan sesuatu.</p>
<p>Menurut anda kira-kira BELIEF apa yang akan muncul apabila RESULT yang selama ini di dapat adalah RESULT penuh kegagalam? Dan kira-kira apa BELIEF yang akan tercipta jika RESULT yang sering anda dapat adalah RESULT yang penuh keberhasilan? Ciptakanlah RESULT-RESULT keberhasilan dengan cara memotong GOAL anda ke dalam ACTION PLAN yang kecil-kecil yang mudah dicapai sehingga anda semakin sering mendapatkan RESULT berhasil yang akan mempengaruhi BELIEF anda.</p>
<p>Kalau Motivator yang selama ini anda tahu adalah faktor eksternal maka RESULT adalah faktor internal. Ia mampu menjadi sebuah energi yang sangat dahsyat yang mendorong anda untuk terus bertindak. RESULT yang berhasil akan mengubah cara pandang ada terhadap diri sendiri dan ketika cara pandang anda berubah maka tindakan anda berubah sehingga akan tercipta bola salju tindakan yang mempengaruhi kesuksesan anda.</p>
<p><strong>2.       </strong><strong>Kata-kata yang disampaikan Motivator membangkitkan semangat.</strong></p>
<p>Yang saya suka dalam sebuah Training Motivasi adalah Motivator senantiasa menyampaikan kata-kata yang menguatkan, membangun dan menginspirasi. Suara-suara yang didengar adalah kata-kata yang bermanfaat dan menguatkan.</p>
<p>Apa yang terjadi sepulangnya dari sebuah Training Motivasi adalah para peserta kembali ke dunia nyata atau dunia praktek yang sebenarnya yang penuh dengan tantangan-tantangan hidup. Kata-kata apa yang muncul di kepala anda ketika anda berhadapan dengan tantangan hidup?</p>
<p>Training Motivasi umumnya hanya berlangsung 2-3 jam dan selama 2-3 jam anda dikenyangkan dengan kata-kata yang membangun dari Motivator atau pembicaranya, namun berapa lama anda mengikuti “Pelatihan” dalam kehidupan? Kira-kira dalam “Pelatihan” tersebut kata-kata apa yang banyak anda munculkan? Kata-kata yang menguatkan diri dan membangkitkan semangat atau kata-kata yang membatasi atau meruntuhkan semangat?</p>
<p>Ketika anda berhadapan dengan tantangan hidup buanglah jauh-jauh kata-kata yang menjauhkan anda dari GOAL . Ingatlah sebuah keluhan tidak akan pernah mendekatkan anda pada GOAL anda.</p>
<p><strong>3.       </strong><strong>Audio Visual yang digunakan membangkitkan perasaan semangat dan motivasi.</strong></p>
<p>Audio Visual yang digunakan dalam sebuah Training Motivasi sangat memegang peranan penting karena ia mampu mempengaruhi perasaan pesertanya. Hampir semua Training Motivasi menggunakan teknik Audio Visual yang mendukung Trainer atau Motivatornya menyampaikan pesan motivasinya. Musik-musik yang membangkitkan semangat dan inspiratif dialunkan, video-video inspiratif nan membangkitkan motivasi diputarkan dan pencahayaan yang megah begitu membangkitkan semangat para pesertanya.</p>
<p>Namun ketika peserta training tersebut pulang kembali ke rumah yang ia dengar bukanlah musik-musik yang menggelegar yang ia lihat bukan lagi kejadian inspiratif seperti tayangan video yang ditayangkan dalam training sebelumnya atau tidak ada sinar lampu yang megah. Yang ada hanyalah segala macam tantangan hidup yang tidak ringan. Yang ada hanyalah segala problematika hidup yang perlu dihadapi.</p>
<p>Suara seperti apa yang dimunculkan oleh realitas internal anda tidak menemukan pemicu motivasi pada realitas eksternal anda. Tayangan video/film apa yang anda munculkan dalam realitas internal anda saat anda tidak lagi menemukan pemicu semangat anda pada realitas eksternal.</p>
<p>Betapa sering nada-nada atau irama yang melemahkan dan film-film yang menghilangkan harapan diputar setiap hari dalam sebuah realitas internal. Ketika yang diperdengarkan dan ditayangkan di dalam realitas internal adalah alunan nada dan film yang melemahkan dan membuat putus asa, kira-kira bagaimana perilaku atau sikap yang akan dimunculkan dari orang tersebut?</p>
<p><strong>4.       </strong><strong>Seminarnya tidak hanya duduk tetapi juga bergerak</strong></p>
<p>Dalam sebuah Training Motivasi setiap peserta akan diajak bergerak. Peserta tidak hanya duduk diam menyaksikan Trainer/Motivatornya semata. Trainer/Motivator akan mengajak peserta untuk memaksa dirinya sendiri untuk bersemangat dengan cara unik dan menarik sehingga pesertanya akan tertarik dan mulai bergerak. Saya yakin ketika diminta bergerak, awalnya ada yang sungkan atau malu-malu namun akhirnya mereka memaksa dirinya untuk bergerak walau dalam benak mereka  awalnya muncul keengganan. Ketika mereka mulai bergerak maka semangat dari dalam akan muncul mengikuti gerakan-gerakan yang mereka lakukan.</p>
<p>Sayangnya sebuah Training Motivasi hanya berlangsung 2-3 jam kurang lebih dan sayangnya peserta umumnya hanya mau memaksa dirinya sendiri untuk bergerak dalam saat-saat training saja. Padahal apabila mereka mau memaksa dirinya sendiri untuk bergerak dalam “Training Kehidupan” mereka sampai akhirnya gerakan-gerakan mereka sendiri membangkitkan semangat dan motivasi dalam hidup mereka, maka mereka akan memiliki semangat yang akan terus menyala-nyala.</p>
<p>Setiap orang memiliki Motivator di dalam diri mereka masing-masing. Berbeda dengan profesi Motivator yang tampil hanya 2-3 jam untuk memantik semangat anda. Motivator dalam diri anda akan terus memberikan semangat dan motivasi dalam hidup hanya jika anda ijinkan diri anda menyelenggarakan sebuah Training Motivasi di dalam diri, yang waktunya bukan hanya 2-3 jam tetapi seumur hidup anda. sebuah Training Motivasi dimana yang akan tampil sebagai Motivatornya adalah seorang Motivator yang sangat anda kenal dan memiliki pengalaman hidup sukses yang luar biasa yaitu <strong>DIRI ANDA</strong> sendiri. Sebuah Training Motivasi dimana yang diperdengarkan hanyalah  kata-kata yang  membangkitkan semangat dari sang Motivator, yaitu <strong>KATA-KATA ANDA</strong> dan setiap kalimat yang Motivator tersebut diiringi oleh Audito Visual yang suaranya menggelegarkan semangat dan ditumpahi cahaya megah yang diputar di dalam sebuah ruangan yang namanya <strong>PIKIRAN &amp; PERASAAN ANDA</strong> dan bukan itu saja  dalam Training Motivasi tersebut Motivatornya yaitu <strong>DIRI ANDA</strong> mengajak <strong>TUBUH ANDA</strong> bergerak sehingga muncul satu semangat dan motivasi yang besar dari dalam diri untuk melakukan tindakan yang efektif untuk meraih <strong>GOAL</strong> atau <strong>IMPIAN ANDA</strong>.</p>
<p><strong><em>Selamat menyelenggarakan Training Motivasi dalam diri dan dalam kehidupan anda sendiri.</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/training-motivasi-paling-dahsyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN</title>
		<link>http://tjiairawan.com/a-cup-of-tea-for-mind-article-2/</link>
		<comments>http://tjiairawan.com/a-cup-of-tea-for-mind-article-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 02:49:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia</dc:creator>
				<category><![CDATA[A Cup of Tea for Mind]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[Life Coaching]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nlp]]></category>
		<category><![CDATA[NLP ATTITUDE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjiairawan.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[by : Coach Tjia Irawan &#160; Tak terasa kita sudah memasuki musim hujan setelah sekian lama kita mangalami masa kemarau yang lumayan panjang tahun ini. Tanah-tanah yang kering kembali mulai dibasahi oleh siraman hujan yang intensitasnya beberapa hari ini semakin deras. Turunnya hujan seperti berkah yang lama dinantikan oleh beberapa daerah yang sudah mulai mengalami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by : Coach Tjia Irawan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak terasa kita sudah memasuki musim hujan setelah sekian lama kita mangalami masa kemarau yang lumayan panjang tahun ini. Tanah-tanah yang kering kembali mulai dibasahi oleh siraman hujan yang intensitasnya beberapa hari ini semakin deras. Turunnya hujan seperti berkah yang lama dinantikan oleh beberapa daerah yang sudah mulai mengalami kesulitan air untuk memenuhi kebutuhannya hidupnya sehari-hari. Namun seperti biasa ada orang yang mensyukuri turunnya hujan namun ada juga orang yang berdoa agar hujan jangan turun dulu karena biasanya orang tesebut memiliki keperluan yang membuatnya perlu melakukan sebuah perjalanan.</p>
<p>Berbicara tentang hujan tentunya kita akrab dengan sebuah peribahasa yang sangat terkenal yaitu “Sedia Payung Sebelum Hujan”. Sebelum hujan sedialah payung agar ketika hujan turun anda tidak menjadi basah karena terguyur air hujan. Berkaitan dengan peribahasa tersebut, muncul pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik seperti berapa banyak orang yang menyediakan payung sebelum hujan? Berapa banyak orang yang mau dan bersedia menyediakan payung sebelum hujan? Apa yang membuat beberapa orang mau membawa payung sebelum hujan dan apa yang membuat sebagian yang lain enggan membawanya?</p>
<p>Saya adalah termasuk orang yang malas membawa payung walaupun menunjukan tanda-tanda akan hujan. Apakah anda termasuk orang yang malas membawa payung seperti saya? Saya penasaran apa yang membuat orang-orang seperti saya malas membawa payung. Buat saya jawaban pertama adalah merepotkan, selain itu juga menambah beban perjalanan saya. Yang lucunya teman saya punya alasan yang lain katanya masa laki-laki membawa payung seperti perempuan saja. Buat saya memang lucu karena apa hubungannya payung dengan jenis kelamin? Kalau anda, apa yang membuat anda malas membawa payung ketika anda melakukan perjalanan? Ada tukang ojek payung saat ini? Atau anda berkata ya kalau hujan turun tinggal berteduh saja?</p>
<p><em>Omong-omong tentang perjalanan bolehkah saya tahu apa perjalanan hidup anda? Apa impian anda? Apa harapan yang anda ingin realisasikan dalam hidup anda? Apakah jalan yang akan anda tempuh akan mulus-mulus &amp; lancar saja tanpa gangguan? </em></p>
<p><em>Rintangan atau tantangan apa yang anda akan hadapi ketika anda berupaya meraih harapan anda tersebut? Apakah anda sudah tahu apa yang perlu anda persiapkan? Sudahkah anda tahu apa yang perlu anda persiapkan ketika anda berhadapan dengan tantangan-tantangan tersebut? </em></p>
<p><em>Lalu, mengapa anda belum mempersiapkannya sampai saat ini? Apakah impian anda itu tidak begitu penting sehingga anda sampai saat ini belum mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut? Apa yang mencegah anda melakukan persiapan tersebut? Suara-suara apa yang muncul di dalam kepala anda yang mencegah anda melakukan persiapan-persiapan? </em></p>
<p><em>Apa yang perlu anda lakukan untuk mengubah suara-suara dalam kepala anda tersebut menjadi suara yang mendukung pencapaian goal anda? Kapan anda memulainya? Apa buktinya kalau anda mau memulainya? Apa buktinya kalau anda telah berhasil melakukannya? Apa penghargaan kepada diri anda apabila anda berhasil melakukannya? Beranikah anda menghukum diri anda apabila anda gagal melakukannya? Apa hukuman yang pantas bila anda gagal melakukannya?</em></p>
<p>“Hukuman” bagi orang seperti saya yang enggan membawa payung biasanya adalah waktu perjalanan saya menuju tujuan menjadi lebih lama karena saya harus berteduh. Berteduh pasti menambah waktu tempuh perjalanan karena untuk sementara waktu saya menghentikan perjalanan. Menyewa payung dari tukang ojek payung memang dapat menjadi solusi tetapi saya perlu mengeluarkan sejumlah uang sebagai kompensasi jasa sewa payung tersebut dan biasanya ojek payung itu hanya utk jarak tertentu. Semakin jauh jarak tempuh, maka semakin mahal atau semakin besar uang yang akan saya keluarkan. Jadi ya, saya perlu mau menerima konsekuensi atas kebiasaan saya enggan membawa payung tersebut. Dilarang memaki hujan karena hujan itu tidaklah bersalah sikap malas bawa payunglah yang menurut saya perlu dikoreksi.</p>
<p>Nilai-nilai luhur yang terkandung dibalik perubahasa “Sedia Payung Sebelum Hujan” tentulah layak tetap dipelihara. Saya percaya bahwa peribahasa tersebut lahir dari pengalaman-pengalaman hidup para leluhur kita. Mereka mengalami bagaimana tidak enaknya harus berbasah kuyup dalam perjalanan akibat ketidak-siapan dirinya menghadapi gangguan hujan saat mereka melakukan sebuah perjalanan. Saya yakin dari ketidaknyamanan mereka tersebut lahir peribahasa “Sedia Payung Sebelum Hujan” dengan tujuan menjadi sebuah nasihat dan pembelajaran bagi anak cucu mereka kelak agar tidak mengalami ketidaknyamanan seperti yang mereka alami.</p>
<p>Wah, tidak terasa langit semakin mendung mungkin hujan sebentar lagi akan turun dengan derasnya.  Musim penghujan rupanya benar-benar telah tiba. Semoga musim penghujan ini banyak membawa berkah bagi setiap orang.  Musim penghujan memang layak disyukuri karena hujan mendatangkan kesegaran. Mendengarkan suara hujan turun buat saya membuat hati ini semakin damai. Ah sejuk dan segarnya aroma hujan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjiairawan.com/a-cup-of-tea-for-mind-article-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

