COACHING IS ONLY FOR 20% PEOPLE

COACHING IS ONLY FOR 20% PEOPLE

Berdasarkan pengalaman melakukan Coaching di berbagai Perusahaan, saya mengamati bahwa Coaching itu tidak untuk semua orang namun hanya untuk sejumlah orang tertentu saja dalam sebuah Perusahaan.

Mengapa begitu?

Saya percaya bahwa anda pernah mendengar istilah Eighty –Twenty Rule atau hukum 80 : 20 (Pareto Principle). Disana dijelaskan bahwa 20% orang yang berperforma puncak akan memberikan kontribusi sebesar 80% dari total kinerja sedangkan yang 80% hanya mampu memberikan kontribusi 20% saja.

Apa yang membuat kelompok 20% tersebut mampu menghasilkan kontribusi sebesar 80% sedangkan yang 80% hanya mampu berkontribusi sebesar 20% ?

Saya adalah orang yang berpendapat tidak semua orang siap dicoaching. Orang yang siap dicoaching adalah orang yang sudah mampu menjadi subyek atas hidupnya sendiri dan tidak lagi hidup diakibatkan oleh masa lalu atau sebagai obyek. Selain itu orang yang siap dicoaching adalah orang yang telah memiliki skill atau keterampilan untuk mencapai Goal/Outcome-nya

Saat ini kesadaran Perusahaan untuk menjadikan coaching sebagai bagian dari Business Strategy-nya sudah banyak tumbuh. Perusahaan-perusahaan mulai mengimplementasikan coaching dan istilah coaching menjadi lebih akrab terdengar di telinga para karyawannya. Namun pertanyaannya adalah apakah semua karyawan yang ada dalam Perusahaan semuanya memiliki mindset sebagai subyek atau mindset yang prima yang tidak lagi menyalahkan faktor eksternal dan mengambil tanggung jawab pribadi atas apa yang terjadi? Atau apakah semua karyawan dalam Perusahaan memiliki knowledge dan skill (baca : kompetensi) yang sesuai dengan tuntutan pencapaian sasaran Perusahaan?

Coaching tidak dapat berdiri sendiri karena coaching hanya bagi mereka yang telah mampu menjadi subyek atas dirinya sendiri dan telah memiliki knowledge dan skill sesuai tuntutan Perusahaan. Lantas bagaimana dengan mereka yang belum mampu menjadi subyek atas dirinya sendiri, yang saat ini masih menyalahkan faktor eksternal atau yang saat ini lekat dan cap karyawan bermasalah? Counseling-lah jawabannya, bukan coaching. Bagaimana juga dengan mereka yang belum memiliki knowledge dan skills yang dibutuhkan? Maka training dan mentoring-lah jawabannya, bukan coaching.

Oleh sebab itu saya melihat ketika Perusahaan menerapkan coaching bagi 100% karyawannya, maka Perusahaan tersebut begitu tertatih-tatih menjalankannya. Mengapa? Bagaimana mungkin menjadikan orang yang takut air juara dunia renang? Sembuhkan dulu phobia-nya. Bagaimana mungkin menjadikan orang yang tidak mampu berenang menjadi juara dunia renang? Latih dulu, training dulu, berikan skill atau keterampilan untuk berenang. Dan ketika ia tidak lagi memiliki phobia ketakutan akan air dan ia memiliki keterampilan untuk berenang saat itulah ia siap dicoaching agar menjadi excellent. Itulah orang-orang 20%, orang-orang yang siap dicoaching.

Kembangkanlah karyawan menurut kebutuhan pengembangannya, gunakan coaching jika telah siap untuk dicoaching. Gunakan counseling jika karyawan tersebut masih “sakit” dan gunakanah training/mentoring jika karyawan tersebut masih belum memiliki pengetahuan dan keterampilan.

Oleh sebab itu seorang Manager yang hebat ia perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memainkan peran sebagai Counselor, Trainer, Mentor dan Coach karena coaching bukan untuk semua orang. Anda boleh memutuskan untuk percaya atau tidak. Coaching is only for 20% people. (cti)



Leave a Reply