NLP BUSINESS SERIES BAG-1

NLP BUSINESS SERIES BAG-1

SENSORY ACUITY

Saya tidak akan memulai serial artikel ini dari definisi tentang NLP karena saya berasumsi bahwa anda bukanlah pembaca yang awam tentang NLP. Begitu banyak artikel yang menjelaskan definisi NLP tersedia di internet. Namun bila anda benar-benar awam tentang NLP dan ingin tahu dan mempelajarinya saya merekomendasikan buku yang dituliskan oleh sahabat saya Bapak Teddi Prasetya Yuliawan yang berjudul The Art of Enjoying Life. Atau bila anda ingin mengikuti kelas pelatihan NLP saya merekomendasikan anda belajar ke Bapak RH. Wiwoho dari IndoNLP atau ke Bapak Hingdranata Nikolay dari NLP Indonesia. Mengapa saya merekomendasikan ke dua nama tersebut karena saya mempelajari NLP dari kedua orang itu dan mendapatkan manfaat dari apa yang mereka ajarkan. Namun di Indonesia perkembangan NLP begitu pesat dan Indonesia memiliki trainer-trainer NLP yang berkualitas seperti Bapak Ronny F. Ronodirdjo, Ibu Issa Kumalasari, Ibu Mariani Ng, Ibu Irene Corry dan masih banyak lagi. Atau bila anda ingin secara khusus mempelajari tentang NLP Business Consulting saya merekomendasikan mempelajarinya dari Bapak dr. Stefanus Isaac Thamsil dari Clear Heart Foundation.

Saya akan memulai NLP BUSINESS SERIES ini dengan pembahasan tentang Pilar NLP.  Kalau anda browsing ke Internet anda akan menemukan ada Pilar NLP berjumlah 4, ada yang berjumlah 5 atau bahkan ada juga yang mengajarkan Pilar NLP yang berbeda. Mana yang paling benar? Dari pada dipusingkan dengan membahas mana yang paling benar dari semuanya itu saya lebih memilih untuk mengatakan bahwa tentunya semuanya mendatangkan manfaat sesuai dengan konteksnya.

Untuk menjaga netralitas dari artikel ini maka saya akan menggunakan sesuai dengan definisi yang dijabarkan di wikipedia berbahasa Indonesia

(http://id.wikipedia.org/wiki/NLP#Empat_Pilar_Utama_NLP) .

Sebagaimana sebuah bangunan maka bangunan tersebut mampu berdiri kokoh karena ditopang oleh pilar-pilar yang kuat. Buat saya memahami dengan baik dan me-master Pilar NLP adalah sebuah keharusan yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum mempelajari begitu banyak teknik-teknik NLP yang ada. Pilar NLP tersebut adalah  :

  1. 1. Sensory Acuity
  2. 2. OutCome
  3. 3. Flexibility
  4. 4. Rapport

Sensory Acuity

adalah kemampuan menggunakan panca indra untuk mengamati individu lain secara cermat tanpa asumsi ataupun penilaian tertentu sebelumnya sehingga individu dapat memberikan respon dengan rapport yang maksimal.

Pada saat kita membahas Sensory Acuity pada manusia tentunya kita tidak akan mengalami kesulitan. Karena manusia memiliki sensory yang jelas yang kita kenal sebagai panca indera, yaitu Visual (Penglihatan), Auditori (Pendengaran), Kinestetik (Perasaan), Olfaktori (penciuman), gustatori (Pengecapan) yang kesemuanya disingkat VAKOG. Fungsi panca indera pada manusia berfungsi hampir sama seperti input device pada komputer. CPU pada komputer tidak akan mampu memproses sesuatu jika CPU tidak menerima data atau input yang dimasukan lewat input device ke dalam CPU. Input device dalam komputer secara umum yang kita kenal dan sering kita gunakan adalah keyboard, mouse, scanner, microphone, barcode reader, dsb

Nah bila manusia memiliki definisi input device yang jelas, bagaimana dengan organisasi perusahaan? Bagaimana organisasi mengembangkan VAKOG-nya sehingga mampu menjadikannya sebagai keunggulan bagi perusahaan tersebut? Berapa banyak perusahaan yang menanggung kerugian yang besar bahkan gulung tikar karena perusahaan tersebut tidak memiliki sistem input device yang baik?

Saat ini perusahaan berlomba-lomba mengembangkan sistem input device yang mampu menjadi VAKOG bagi organisasinya.sebut saja 6 Sigma, Balance Score Card, sistem audit yang handal, marketing intelligence, HR Dashboard atau Early Warning System yang lain dsb.

Menjelang akhir tahun para Top Executive bertemu mereka mengundang para ekonom atau para ahli keuangan lainnya. Dengan tujuan apa mereka melakukan semua itu? Dengan tujuan mendapatkan Visual yang jelas tentang economic outlook di tahun berikutnya. Atau perusahaan yang mengundang customer-nya untuk mengadakan Focus Group Discussion, dengan tujuan apa mereka melakukan semua itu? Dengan tujuan agar mereka mendengar suara konsumen dan menindaklanjuti apa yang mereka dengar dari suara konsumen tersebut.

Contoh lainnya adalah ada sebuah perusahaan Taxi besar di Indonesia yang mewajibkan Manajernya dalam periode tertentu turun ke bawah dan menjadi supir taxi dan mengangkut penumpang. Dengan tujuan apa? Dengan tujuan mereka tahu apa yang dirasakan oleh supir taxi, agar mereka melihat secara langsung kondisi lapangan, mendengarkan feedback secara langsung dari  penumpang taxinya. Hasilnya? Perusahaan tersebut mampu mengembangkan bisnisnya sedemikian rupa dan menjadi perusahaan taxi yang unggul di Indonesia.

Pembaca yang baik, silahkan sebutkan perusahaan yang menurut anda adalah perusahaan unggulan, maka saya dapat membuktikan bahwa perusahaan tersebut memilik Sensory Acuity yang baik. Mereka mampu mengkalibrasi perubahan-perubahan yang terjadi disekitar mereka dan selanjutnya memutuskan langkah apa yang harus diambil.

Kemampuan perusahaan membangun sistem “VAKOG”-nya menunjang kelangsungan bisnis dari perusahaan tersebut. Bukankah mata yang sehat akan mampu melihat lebih jelas? Bukankah telinga yang peka akan lebih mampu mendengar suara-suara dengan jelas bahkan mungkin suara-suara yang selama ini tidak terdengar karena terlalu kecil volume suaranya? Jadi, tunggu apa lagi segera pikirkan dan kembangkan kemampuan Sensory Acuity perusahaan anda

Nah pembaca yang baik, demikian artikel pertama dari NLP BUSINESS SERIES. Apabila ada hal yang ingin anda diskusikan secara khusus tentang perusahaan anda yang berkaitan dengan artikel ini, silahkan kirimkan email  anda ke alamat coachingmedia.solutions@gmail.com